Kamis, 11 Desember 2008

Airway Manajement.

Airway Manajement ialah memastikan jalan napas terbuka. Menurut The Commite on Trauma: American College of Surgeon (Yayasan Essentia Medica, 1983: 20; Hendrotomo, 1986: 497) tindakan paling penting untuk keberhasilan resusitasi adalah segera melapangkang saluran pernapasan, yaitu dengan cara: (1) tripel airway maneuver, dan (2) maneuver Heimlich.

I. Triple Airway Manuever.

Pada Triple Airway Manuever terdapat tiga perlakuan yaitu:

1. Kepala ditengadahkan dengan satu tangan berada di bawah leher, sedangkan tangan yang lain pada dahi. Leher diangkat dengan satu tangan dan kepala ditengadahkan ke belakang oleh tangan yang lain

2. Menarik rahang bawah ke depan, atau keduanya, akan mencegah obtruksi hipofarings oleh dasar lidah. Kedua gerakan ini meregangkan jaringan antara larings dan rahang bawah.

3. Menarik / mengangkat dasar lidah dari dinding pharyinx posterior.

II. Manuever Heimlich

Manuever Heimlich (The Committee on Trauma: American College of Surgeon (Yayasan Essentia Medica, 1983: 22) ini merupakan metode yang paling efektif untuk mengatasi obstruksi saluran pernapasan atas akibat makanan atau benda asing yang terperangkap dalam pharynx posterior atau glottis.

Korban menjadi pucat yang diikuti dengan bertambahnya cyanosis, anoxia dan kematian. Pada kondisi tersebut di atas, maneuver dapat dilaksanakan dengan posisi penolong berdiri atau berbaring.



a. Korban dalam keadaan sadar.

Penolong berdiri di belakang korban dan memeluk pinggang korban dengan kedua belah tanggan, kepalan salah satu tangan digenggam oleh tangan yang lain. Sisi ibu jari kepalan penolong menghadap abdomen korban diantara umbilicus dan thoraks. Kepalan tersebut ditekankan dengan sentakan ke atas yang cepat pada abdomen korban. Penekanan tersebut tidak boleh memantul, dan pada waktu di puncak tekanan perlu diberi waktu untuk menahan 0.5-1 detik dan setelah itu tekanan dilepas, perbuatan ini harus diulang-ulang beberapa kali. Naiknya diafragma secara mendadak menekan paru-paru yang dibatasi oleh dinding rongga dada, meningkatkan tekanan intrathoracal dan memaksa udara serta benda asing keluar dari dalam saluran pernapasan.



b. Korban dalam keadaan tidak sadar.

Korban berbaring terlentang dan penolong berlutut melangkahi panggul korban. Penolong menumpukan kedua belah tanggannya dan meletakkan panggkal salah satu telapak tangan pada abdomen korban, kemudian melaksanakan prosedur yang sama pada posisi berdiri.

Tidak ada komentar: